Uang digital yang didukung oleh emas dan perak batangan

Evolusi Digital Standar Emas

Kinesis Money adalah platform moneter yang dibangun di atas landasan emas dan perak fisik. Melalui sistem pembayaran digitalnya, individu maupun pelaku bisnis dapat membeli, menyimpan, mentransfer, membelanjakan, dan menerima logam mulia.

Alih-alih mengandalkan mata uang fiat, platform ini menggunakan dua token asli (native tokens): KAU, yang mewakili satu gram emas, dan KAG, yang mewakili satu ons perak. Berdasarkan dokumentasi hukum Kinesis, setiap token mencerminkan kepemilikan langsung atas logam fisik yang telah dialokasikan sepenuhnya (fully allocated). Logam tersebut disimpan di brankas yang diasuransikan dan dikelola secara independen, tersebar di sejumlah pusat perdagangan logam mulia utama di dunia. Jaminan satu banding satu antara KAU dan KAG dengan logam fisiknya juga diaudit secara independen dua kali setiap tahun oleh Bureau Veritas, perusahaan inspeksi, pengujian, dan sertifikasi berskala global.

Berbeda dengan token berbasis emas seperti Pax Gold dan Tether Gold yang pada umumnya dirancang sebagai instrumen investasi, KAU dan KAG milik Kinesis dikembangkan agar dapat berfungsi sebagai mata uang digital dalam sebuah sistem moneter yang lebih luas. Dengan kata lain, Kinesis berupaya menghidupkan kembali peran logam mulia sebagai alat tukar—peran yang telah dijalankannya selama berabad-abad.

Kinesis telah menjalin kemitraan jangka panjang antara publik dan swasta dengan beberapa lembaga pemerintah dan badan nasional di Indonesia. Kerja sama ini dimulai dengan PT Pos Indonesia sebagai layanan pos milik negara. Integrasi teknologi Kinesis secara nasional ini membuka akses emas fisik yang sesuai syariah bagi masyarakat Indonesia secara lebih luas. 

Pada kuartal III 2023, Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin meresmikan aplikasi POSPAY GOLD milik PT Pos. Aplikasi ini memungkinkan warga Indonesia untuk membeli dan menyimpan emas fisik dengan biaya rendah serta secara instan. Rencananya, fitur pembayaran berbasis emas dan pengiriman uang juga akan ditambahkan kemudian. Dengan dukungan pemerintah Indonesia, teknologi finansial ini membantu memberikan akses keuangan kepada masyarakat yang selama ini belum terjangkau bank atau masih kurang terlayani.

Mengapa Semakin Banyak Orang Mencari Alternatif Selain Mata Uang Fiat: Mencari Uang yang Bernilai Kokoh (Sound Money)

Dalam esainya yang terbit pada 1966 berjudul Emas dan Kebebasan Ekonomi (Gold and Economic Freedom), jauh sebelum menjabat sebagai Ketua ke-13 Federal Reserve, Alan Greenspan mengemukakan pandangan yang tajam mengenai alasan di balik penolakan terhadap standar emas: “Tanpa adanya standar emas, tidak ada cara untuk melindungi tabungan dari perampasan melalui inflasi. Tidak ada penyimpan nilai yang benar-benar aman. … Kebijakan fiskal negara kesejahteraan (welfare state) menuntut agar pemilik kekayaan tidak memiliki cara untuk melindungi aset mereka. Inilah rahasia yang tidak membanggakan di balik kecaman para pendukung negara kesejahteraan terhadap emas. Pembiayaan defisit pada dasarnya hanyalah skema untuk merampas kekayaan. Emas menjadi penghalang bagi proses yang terselubung ini. Emas melindungi hak atas kepemilikan. Jika seseorang memahami hal ini, ia tidak akan kesulitan mengerti mengapa para pendukung negara begitu memusuhi standar emas.”

Tentu saja, kita masih bisa memperdebatkan niat sebenarnya dari kelompok yang oleh Greenspan disebut sebagai pendukung negara kesejahteraan (welfare statists). Di sisi lain, para pengkritik standar emas berpendapat bahwa perekonomian modern membutuhkan fleksibilitas kebijakan moneter, dan bahwa sistem yang mengharuskan setiap uang didukung sepenuhnya oleh aset dapat membatasi ruang gerak pembuat kebijakan ketika menghadapi krisis ekonomi.

Namun, ada satu hal yang sulit disangkal: mata uang fiat memang rentan mengalami penurunan nilai, terutama ketika otoritas moneter menempuh berbagai kebijakan stimulus.

Dampaknya sudah sangat akrab kita lihat. Para pensiunan yang mengandalkan penghasilan tetap mendapati daya beli tabungan mereka terus menyusut dari tahun ke tahun. Para penabung yang cenderung berhati-hati akhirnya terdorong mengambil risiko investasi yang lebih besar hanya agar nilai kekayaannya tidak tergerus inflasi. Sementara itu, investor yang minim pengalaman, maupun mereka yang tidak memiliki atau hanya memiliki akses terbatas ke berbagai instrumen keuangan, mengalami penyusutan kekayaan secara perlahan—sering kali tanpa benar-benar menyadarinya.

Tidak mengherankan jika semakin banyak orang mulai mencari alternatif. Mereka menginginkan alat tukar yang tidak mudah kehilangan nilainya akibat penciptaan uang secara sewenang-wenang. Inilah salah satu alasan mengapa Bitcoin pada awal kemunculannya begitu menarik perhatian, sebelum akhirnya lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif semata.

Sayangnya, ketika mata uang fiat terus kehilangan daya beli, emas justru kerap digambarkan sebagai peninggalan masa lalu yang sudah tidak relevan—sekadar “batu kesayangan” (pet rock). Banyak penasihat investasi dan komentator keuangan sejalan dengan pandangan Warren Buffett yang menilai emas hanyalah aset yang tidak produktif dan dibiarkan begitu saja di dalam brankas: “Emas digali dari dalam tanah di Afrika atau di tempat lain. Lalu dilebur, digali lubang baru, dikubur lagi, dan kita membayar orang untuk menjaganya. Emas tidak memiliki kegunaan.”

Namun, perubahan itu bukan hanya soal bagaimana emas dipandang sebagai instrumen investasi. Perannya sebagai uang secara perlahan juga tersingkir, baik dalam sistem moneter modern maupun dalam sebagian besar pembahasan mengenai keuangan. Akibatnya, anggapan bahwa emas sudah tidak lagi memiliki fungsi moneter dalam ekonomi modern menjadi pandangan yang diterima secara luas.

Contoh sederhananya dapat ditemukan di berbagai forum investasi daring. Hampir selalu, emas dibahas di kategori komoditas, bukan kategori mata uang, seolah-olah sejarah panjangnya sebagai alat pembayaran hanyalah catatan kaki dalam buku sejarah.

Saya berpendapat bahwa—kemungkinan besar sebagai akibat dari semacam Efek Cantillon (Cantillon Effect), yaitu kondisi ketika uang baru pertama kali menguntungkan pihak-pihak yang paling dekat dengan sumber penciptaannya sebelum kenaikan harga dirasakan oleh masyarakat luas—terlepasnya uang dari standar emas terutama, bahkan mungkin sepenuhnya, menguntungkan kalangan lembaga keuangan, sementara masyarakat biasa justru menanggung dampaknya.

Saya juga meyakini bahwa dalam sistem fiat, yang ditandai oleh penciptaan uang secara terus-menerus dan penurunan nilai mata uang sebagai konsekuensinya, investor yang lebih berpengalaman menikmati keunggulan yang jauh lebih besar dibandingkan masyarakat pada umumnya. Mereka memiliki akses terhadap informasi yang lebih berkualitas, serta berbagai produk keuangan yang lebih kompleks—sesuatu yang umumnya tidak dikenal atau sulit dijangkau oleh kebanyakan orang, terutama mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap layanan perbankan atau hanya terintegrasi secara terbatas ke dalam sistem keuangan.

Terakhir, saya berpendapat bahwa pelemahan nilai mata uang akibat penciptaan uang yang berlebihan memberikan beban yang tidak proporsional kepada keluarga berpenghasilan rendah. Dengan ruang tabungan yang sangat terbatas, mereka sering kali tidak memiliki modal maupun likuiditas yang cukup untuk berinvestasi secara efektif sehingga lebih sulit melindungi nilai kekayaan mereka dari dampak inflasi.

Mendemokratisasi Akses terhadap Logam Mulia

Di beberapa negara, pasar ritel logam mulia (retail bullion market) sudah berkembang dengan baik sehingga kepemilikan emas atau perak fisik menjadi sesuatu yang lazim. Namun, di banyak negara lain, pasar seperti ini nyaris tidak ada, sehingga masyarakat umum hanya memiliki sedikit pilihan yang benar-benar praktis.

Bahkan di negara yang memiliki dealer logam mulia, proses pembeliannya jauh lebih rumit dibandingkan membuka rekening tabungan atau membeli ETF. Investor harus mempertimbangkan berbagai hal: memilih antara koin atau batangan, menentukan ukuran yang sesuai, mengatur asuransi, memastikan keamanan pengiriman, memverifikasi keaslian logam saat membeli maupun menjual, membandingkan selisih harga beli dan jual (buy and sell spread) yang kompetitif, hingga persoalan yang mungkin paling penting—di mana logam mulia tersebut akan disimpan dengan aman.

Solusi yang sering dikemukakan melalui prinsip terkenal, “If you don’t hold it, you don’t own it” (“Jika Anda tidak memegangnya sendiri, berarti Anda tidak benar-benar memilikinya”), yang oleh sebagian investor logam mulia dianggap sebagai aturan mutlak, pada dasarnya mencerminkan sudut pandang investor di negara-negara maju dan stabil, tempat penyimpanan emas atau perak di rumah merupakan pilihan yang realistis.

Namun, prinsip tersebut mengabaikan kondisi jutaan orang di berbagai belahan dunia. Bagi mereka, persoalan keamanan, keterbatasan tempat tinggal, ketidakstabilan politik, atau lemahnya perlindungan hukum membuat penyimpanan logam mulia di rumah bukanlah pilihan yang praktis maupun aman. Selain itu, prinsip tersebut juga sulit diterapkan dalam konteks kepemilikan institusional. Misalnya, sebuah dana pensiun dapat memiliki emas fisik yang telah dialokasikan secara khusus (allocated bullion), tetapi tentu tidak ada yang mengharapkan lembaga tersebut menyimpan seluruh emas itu sendiri.

Platform seperti Kinesis hadir untuk menghilangkan banyak hambatan tersebut. Melalui ponsel pintar dan koneksi internet, siapa pun dapat memiliki emas dan perak fisik yang telah dialokasikan. Di dalam bursa Kinesis, pengguna dapat memperdagangkan logam mulia terhadap berbagai mata uang utama maupun aset kripto dengan harga yang mendekati harga grosir (wholesale), sehingga selisih antara harga beli dan harga jual tetap rendah.

Model seperti ini sangat bermanfaat, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Alih-alih menyimpan logam mulia yang baru dapat dimanfaatkan setelah dijual, Kinesis memungkinkan penggunanya mengakses nilai aset tersebut kapan pun dibutuhkan. Sistemnya juga sangat fleksibel karena dapat dibagi ke dalam satuan yang sangat kecil—mulai dari 0,00001 gram emas atau 0,00001 ons perak—sehingga seseorang dapat mulai berinvestasi hanya dengan dana yang relatif kecil.

Menurut saya, pendekatan ini mengingatkan pada bagaimana layanan perbankan seluler (mobile banking) memperluas akses terhadap layanan keuangan di negara-negara berkembang. Sama seperti M-Pesa yang memungkinkan jutaan orang di Afrika Timur menyimpan dan mengirim uang hanya melalui telepon seluler sederhana tanpa harus datang ke kantor bank, Kinesis memungkinkan siapa pun memiliki sekaligus menggunakan logam mulia fisik tanpa perlu berurusan langsung dengan brankas penyimpanan maupun dealer logam mulia. Akses terhadap sound money (uang yang memiliki nilai intrinsik dan relatif tahan terhadap penurunan daya beli) seperti ini berpotensi membawa perubahan yang sama besarnya dengan revolusi layanan perbankan seluler.

Standar Emas 2.0: Sound Money untuk Era Digital

Kinesis tidak hanya mempermudah kepemilikan logam mulia. Platform ini juga memungkinkan penggunanya mentransfer nilai secara instan antar-dompet digital (wallet). Kinesis Card berfungsi layaknya kartu pembayaran pada umumnya, tetapi dengan kemampuan mengonversi kepemilikan emas atau perak menjadi mata uang lokal secara otomatis saat transaksi dilakukan. Di sisi lain, pelaku usaha juga dapat menerima pembayaran dalam bentuk logam mulia melalui Kinesis Pay. Melalui berbagai fitur tersebut, Kinesis berupaya mengembalikan emas dan perak ke fungsi tradisionalnya sebagai alat pembayaran, bukan sekadar aset investasi.

Sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap metode pembayaran baru pada awalnya selalu disambut dengan keraguan. Ketika kartu kredit pertama kali diperkenalkan, banyak orang tidak percaya bahwa masyarakat akan lebih memilih selembar kartu plastik daripada uang tunai. Hal serupa juga terjadi saat layanan perbankan daring (online banking) mulai berkembang. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah mengelola uang melalui internet dan tetap lebih nyaman datang langsung ke kantor cabang bank. Kini, kedua hal tersebut justru telah menjadi bagian yang sangat biasa dari kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks itu, Kinesis dapat dipandang sebagai bentuk Standar Emas 2.0. Gagasannya bukan untuk membawa sistem moneter kembali ke abad ke-19, melainkan menggabungkan disiplin moneter yang selama ini melekat pada emas dengan kecepatan serta kemudahan teknologi digital.

Meski demikian, terdapat satu perbedaan mendasar antara Standar Emas 2.0 dan standar emas klasik. Dalam model ini, partisipasi bersifat sepenuhnya sukarela. Setiap orang bebas memutuskan apakah ingin menyimpan kekayaannya dan bertransaksi menggunakan logam mulia, tanpa dipaksa mengikuti satu sistem moneter yang berlaku secara tunggal.

Pendekatan tersebut sejalan dengan salah satu keyakinan mendasar Friedrich Hayek dalam Menuju Sistem Moneter Pasar Bebas (Towards a Free Market Monetary System): “Saya semakin yakin bahwa jika suatu hari nanti kita kembali memiliki sistem uang yang baik, sistem itu tidak akan berasal dari pemerintah, melainkan diterbitkan oleh sektor swasta. Menyediakan uang yang dapat dipercaya dan digunakan oleh masyarakat bukan hanya dapat menjadi bisnis yang sangat menguntungkan, tetapi juga memaksa penerbitnya untuk tunduk pada disiplin yang selama ini tidak pernah, dan tidak mungkin, diterapkan kepada pemerintah.”

Menurut saya, sifat sukarela inilah—beserta persaingan antar-mata uang yang lahir darinya—yang menjadi salah satu kekuatan terbesar dari model tersebut. Pendekatan ini memberi individu maupun pelaku usaha apa yang dapat disebut sebagai kebebasan memilih sistem moneter (free monetary choice), sehingga mereka dapat menentukan sendiri bentuk uang yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kepercayaan mereka.

Mengapa Allocated Bullion Exchange (ABX) Penting?

Kinesis dibangun di atas Allocated Bullion Exchange (ABX), sebuah platform institusional untuk perdagangan dan penyimpanan logam mulia fisik yang mulai dikembangkan pada 2011 dan resmi diluncurkan secara penuh pada 2016.

Bagi pengguna sehari-hari, nilai utama ABX terletak pada jaringan brankas profesional dan mitra logistiknya yang telah mapan, seperti Malca-Amit, Armaguard, dan Loomis International. Melalui jaringan ini, pengguna memperoleh akses ke infrastruktur penyimpanan yang diasuransikan dan tersebar di berbagai negara.

ABX juga mengelola pencatatan kepemilikan, proses rekonsiliasi aset, serta audit independen. Karena seluruh logam mulia berada dalam sistem kustodian profesional yang sudah terbangun dengan baik, audit atas emas dan perak yang menjadi jaminan KAU dan KAG—yang dilakukan oleh Bureau Veritas—dapat dilaksanakan secara berkala dan efisien.

Dapatkah Emas dan Perak Kembali Menjadi Uang di Era Ekonomi Digital?

Para pengkritik gagasan mengembalikan emas sebagai alat pembayaran berpendapat bahwa sistem berbasis emas tidak akan mampu bersaing dengan jaringan pembayaran berbasis mata uang fiat yang sudah mengakar. Mata uang nasional telah terintegrasi ke dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari peraturan perundang-undangan, perpajakan, kontrak, penggajian, hingga transaksi sehari-hari. Di tingkat internasional, dolar AS juga masih mendominasi transaksi lintas negara.

Di kalangan pendukung logam mulia sendiri, pada umumnya terdapat kesepakatan bahwa sistem moneter sebaiknya kembali mengacu pada suatu bentuk standar emas (gold standard), yakni sistem yang kembali menjadikan emas sebagai dasar nilai uang, alih-alih mengandalkan mata uang fiat. Namun, pandangan tersebut sering kali disertai sikap yang sangat berhati-hati terhadap segala sesuatu yang bersifat digital. Sikap ini sebagian besar dipengaruhi oleh fenomena Bitcoin.

Tidak jarang dijumpai pandangan yang bernuansa nostalgis, yaitu keinginan untuk menghidupkan kembali sistem pembayaran seperti yang digunakan lebih dari satu abad lalu, ketika standar emas klasik masih berlaku, lalu menerapkannya secara langsung pada perekonomian modern yang jauh lebih kompleks.

Sebaliknya, di kalangan komunitas mata uang kripto, banyak yang justru memandang sifat fisik emas sebagai kelemahan mendasar. Menurut mereka, karakteristik tersebut membuat emas hampir mustahil kembali memainkan peran sebagai uang di era pembayaran digital. Misalnya: “Namun, di era digital global, emas memiliki kelemahan yang cukup menghambat.  Emas berat, sulit dibagi, dan sangat mahal untuk dipindahkan atau diamankan. Hal ini memaksa masyarakat kembali menitipkan emas di bank sentral, yang pada akhirnya membawa kita kembali ke masalah awal di mana uang kertas yang diklaim sebagai wakil emas.” (https://kantapos.id)

Pada akhirnya, pertanyaan utamanya tetap sama: apakah emas dan perak masih memiliki peluang realistis untuk kembali berfungsi sebagai uang dalam perekonomian yang kini didominasi oleh sistem pembayaran digital?

* Jika Anda memutuskan untuk membuka akun Kinesis, Anda akan mendapatkan akses ke berbagai layanan yang tersedia di platform tersebut, termasuk Kinesis Exchange, Kinesis Pay, Metalback, dan Kinesis Card (yang saat ini masih berada dalam tahap uji coba beta). Menggunakan tautan afiliasi saya tidak akan memengaruhi pengalaman Anda maupun menimbulkan biaya tambahan apa pun. Tautan tersebut hanya membantu mendukung operasional situs web ini. Setiap halaman di situs ini juga dilengkapi kolom komentar. Jadi, apabila Anda memiliki pertanyaan atau ingin menyampaikan pendapat, silakan tinggalkan komentar pada halaman yang paling relevan dengan topik yang dibahas. Terakhir, ingatlah bahwa ini bukan nasihat keuangan. Selalu lakukan uji tuntas Anda sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top